Webinar Tahun Baru Islam, “Pesantren Kreatif Ekonomi Bangkit”

Jakarta –Dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1443 H, Riezka Rahmatiana selaku kepala badan promosi dan pemasran OK OCE sekaligus CEO sapapreneur mengadakan Webinar dengan tema Pesantren Kreatif Ekonomi Bangkit. Acara ini diselenggarakan dengan tujuan untuk menguatkan kewirausahaan santripreneur dengan memberikan kepada para santri keterampilan vokasi dan kewirausahaan sebagai bekal untuk menguasai ilmu agama dan juga menguasai kewirausahaan agar para santri mampu untuk mengajak masyarakat untuk berwirausaha.

Acara yang diselenggarakan pada 1 Muharram 1443 tersebut dibawakan oleh Habib Alkaf sebagai Host. Riezka rahmatiana sebagai inisiator acara webinar bertema pesantren krearif ekonomi bangkit. Turut hadir pula Sandiaga Uno selaku founder OK OCE dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Indra Uno selaku founder OK OCE, Ust Peri Risnandar selaku Ketua Koperasi Darurat Tauhid, Iim Rusyamsi sekau Ketua umum OK OCE, Riezka Rahmatiana selaku Inisiator Gerakan Pesantren Kreatif, Kepala Bidang Promosi Pemasaran Ok OCE, dan CEO Sapapreneur, serta Hj. Lista Hurustiati selaku Founder Gerai Lengkong dan Istri dari Walikota Tangerang Selatan, Drs. H. Benyamin Davnie.

Acara dibuka oleh Sandiaga Uno yang membahas mengenai menanamkan jiwa kewirausahaan pada generasi muda, terutama pada kondisi Covid 19 ini. Dengan menanamkan jiwa kewirausahaan ini diharapkan agar kedepannya generasi muda dapat memiliki mindset entrepreneur. “Kewirausahaan dapat menjadi garda terdepan dalam pencapaian pilar ekonomi yang berkelanjutan.” kata Sandiaga Uno.

Pada masa jabatannya sebagai Menteri pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno menyatakan bahwa beliau dengan timnya telah mengembangkan beberapa program untuk 28.000 pesantren yang ada di Indonesia. Salah satu programnya adalah Santripreneur, dimana program ini bertujuan untuk mendorong santri-santri memulai langkah di ekonomi bisnis digital. Program Santripreneur ini akan nantinya akan menghadirkan program pelatihan dan pendampingan 7 TOP bersama dengan OK OCE dan Sapapreneur.

Pembicara selanjutnya adalah Indra Uno yang membahas mengenai bagaimana cara menyikapi perbedaan omset yang dimiliki oleh perusahaan sebelum dan setelah PPKM yang diselenggarakan oleh pemerintah. Founder OK OCE ini mengatakan bahwa untuk menyikapi hal tersebut yaitu dengan bergabung dengan komunitas. Beliau mengatakan bahwa dengan bergabung dengan komunitas maka silaturahmi semakin luas, karena dengan semakin luas silaturahmi yang dilakukan, maka semakin banyak juga rejeki yang didapat.

Selain itu, Indra Uno menyampaikan bahwa pada PPKM ini penting untuk menyampaikan informasi secara digital karena adanya batasan untuk penyampaian informasi secara tatap muka. Penyampaian informasi secara digital ini akan membuat informasi tetap mengalir kepada orang-orang walaupun tidak bertatap muka secara langsung. Indra Uno berkata, “Omset turun bukan karena kebijakan PPKM, tetapi karena kita belum punya ilmu untuk menyampaikan informasi ke pembeli yang sebelumnya tatap muka menjadi tatap layar”. Ujarnya.

Selanjutnya Iim Rusyamsi, selaku Ketua Umum OK OCE membahas Peran Ekonomi Kreatif dan Pesantren di masa pandemi. Ekonomi kreatif yang dibahas ini mencakup data dari ekonomi kreatif yang ada di Indonesia sebelum dan saat pandemi, strategi pemasaran ekonomi kreatif di masa Covid-19, pengembangan pesantren dan ekonomi syariah, serta melihat peluang di saat pandemi. Materi ekonomi kreatif yang dibahas oleh Ketua Umum OK OCE ini disampaikan untuk membantu para santri belajar bagaimana memulai dan mengembangkan bisnis, terutama pada era pandemi Covid-19.

Kreatifitas juga menjadi salah satu kunci bagi para pelaku usaha dalam menghadapi pandemi Covid 19 yang datang secara tiba-tiba. Hal tersebut menjadi landasan dari berdirinya Gerai Lengkong yang digagas oleh Lista Hurustiati. Gerai Lengkong tersebut didirikan oleh Lista Hurustiati pada awal pandemi 2020, dimana seluruh UMKM tidak dapat beroperasi secara efisien di daerah Tangerang Selatan.

Untuk membantu para pelaku UMKM di Kota Tangerang Selatan, Lista dan kawan-kawan berinisiatif untuk mendirikan suatu gerai yang didalamnya menjual berbagai produk dari UMKM yang berasal dari Kota Tangerang Selatan.
Nama Gerai “Lengkong” diadaptasi dari suatu kelurahan yang ada di Kecamatan Serpong, TangSel, dimana pada daerah tersebut terjadi tragedi tertembaknya tentara muda. Dengan penamaan Gerai “Lengkong”, harapan Lista ialah para UMKM memiliki spirit, kreativitas, dan perjuangan yang tinggi.

Berbicara mengenai pesantren, tidak hanya memiliki fungsi untuk pendidikan dan dakwah tetapi juga sebagai wadah pemberdayaan masyarakat. Ust. Peri Risnandar bercerita mengenai perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW, sebagai terwujudnya Islam yang berdaulat dan mandiri setelah hijrah. Melalui pesantren ini masyarakat dapat semakin kuat dengan saling bahu membahu membantu sesama.

Pembicara terakhir ditutup oleh Syeikh Al-Zaytun yang membahas mengenai perubahan pesantren menjadi pesantren modern. Kata kreatif memunculkan pemikiran-pemikiran “out of the box” yang memerlukan suatu keberanian dalam mewujudkannya. Hal tersebut mulai diterapkan oleh Pesantren Al-Zaytun agar dapat mendapatkan kelonggaran dalam membangun pendidikan maupun perekonomiannya demi menjadi pesantren yang mandiri.

(ms/frd)

Mungkin Anda Menyukai